Wisuda 57 Santri, Lulusan AFKN Diharapkan Berkontribusi untuk Masyarakat

 

D Wisuda Santri AFKN

Untuk terus mempertahankan eksistensi dakwah Islam di bumi Nuu Waar (Irian Jaya), diperlukan tenaga dai yang selain memiliki ilmu keislaman, tapi juga keahlian bidang tertentu. Untuk itu, pada hari Selasa (17/9) lalu, Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) menggelar Wisuda ke-26 santri AFKN Pondok Pesantren Nuu Waar di Pesantren Kilat Al-Hikmah Ciawi, Bogor, Jawa Barat.

Dalam prosesi tersebut, AFKN mewisuda santri sebanyak 57 orang yang berhasil lulus dari akademi kebidanan, akademi keperawatan, dan beberapa perguruan tinggi Islam lainnya. Di antara peserta wisuda, yang paling terbanyak adalah para bidan dan perawat yang lulus dari akademi kebidanan dan keperawatan milik Yayasan Rumah Sakit Umum Sehat Medan, Sumatera Utara.

Acara wisuda ini resmi dibuka oleh Ketua Dewan Senat Pesantren Nuu Waar sekaligus Ketua Umum AFKN, Ustadz M Fadzlan Rabbani Garamatan. Dalam sambutannya, Ustadz Fadzlan mengatakan, salah satu kunci kemenangan umat Islam dalam Perang Badar adalah ketika seluruh pasukannya berserah diri dan mengharapkan ridha Allah SWT. “Meski sedikit, namun umat Islam mencapai kemenangannya ketika itu,” ujar Ustadz Fadzlan Garamatan yang juga didampingi oleh 14 orang anggota senat lainnya.

Tapi justru ketika jumlah umat Islam lebih banyak, tapi hati mereka disusupi motivasi harta dunia, maka kekalahan seperti pada Perang Uhud pun terjadi.  Kata Ustadz Fadzlan, mempersiapkan kemenangan dan kejayaan Islam merupakan sesuatu yang harus disiapkan, baik dari segi mental, keislaman, dan juga ilmu. Menurutnya, apa yang dilakukan saat ini, adalah bagi dari untuk mempersiapkan kejayaan Islam.

“Sehingga ketika tiba waktunya kejayaan, anak-anak Nuu Waar sudah siap dengan kualitas yang terbaik,” tegas Ustadz Fadzlan di hadapan para peserta wisuda dan juga tamu undangan.

Sementara itu, Ustadz Ahmad Husein Dahlan, Lc. MM, Mudir Ponpes Nuu Waar dalam kesempatan itu menyampaikan laporan pendidikan. Dalam penyampaiannya, ustadz lulusan Madinah ini mengatakan, lulusan AFKN tahun sebanyak 57 orang santri ini akan disebar ke beberapa kabupaten di Nuu Waar. “Alhamdulillah mereka tetap terkontrol agar sejalan dengan visi besar dakwah AFKN,” terang Ustadz Husein. Katanya,  AFKN akan terus fokus dalam bidang pendidikan, dakwah, ekonomi, dan pengembangan sumber daya manusia di Nuu Waar.

Dalam amanatnya, Mudir Ponpes Nuu Waar ini mengatakan, jadikanlah ilmu yang dipelajari selama ini untuk mendekati dan bermanfaat untuk masyarakat. “Kalian telah berjanji menjadi dai ilallah, jangan membuat umat kecewa. Jadilah dai yang bisa menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat,” pesan Ustadz Husein kepada para santri.

Usai menyampaikan sambutan, Mudir Ponpes Nuu Waar kemudian menyerahkan kembali santri AFKN asal Nuu Waar kepada perwakilan masyarakat Nuu Waar, Drs Mashuda Kastela. Dalam penyerahan secara simbolis itu, Ustadz Husein mengharapkan, para lulusan AFKN itu akan menjadi pelopor di tengah masyarakat.

***

Selain proses wisuda secara formal, dalam acara tersebut diisi dengan orasi ilmiah dari para pengajar dan pembina AFKN. Yang tampil mempresentasikan makalahnya, yaitu: Dr Wahidin Puarada (Mantan Bupati Fakfak), dr Zaidul Akbar, M.P Herba (Direktur Institut Thibbun Nabawi Indonesia), dan Ustadzah Hj Ningrum Maurice Nugroho.

Ustadz Hj Ningrum yang kerap membina para santri mengatakan, peran para bidan tidak mengenal waktu dan tempat untuk menolong kaum ibu yang keadaannya antara hidup dan mati sampai Allah SWT menempatkannya sama seperti derajat orang yang berada di medan jihad.  “Saya berpikir mungkinkah seorang bidan itu berpeluang besar menjadi para pejuang dan dapat menggapai syahid Allah?” ulas Ustadzah Nigrum.

Apalagi, jika para bidan dan paramedis itu berhasil melakukan edukasi kesehatan kepada remaja sejak dini, untuk menyelamatkan para remaja dari ancaman pergaulan bebas, obat-obatan terlarang, dan tindak abortus yang semakin sering terjadi.

Ustadz Maurice mengimbau kepada para bidan dan perawat yang diwisuda, mulai hari ini segera jemput kesempatan ladang emas ibadah di dunia khidmat kesehatan. “Bayangkan jika dari satu bidan mempunyai 10 ibu binaan, maka jika rata-rata seorang ibu melahirkan dua orang anak, maka atas ijin Allah SWT akan lahir 20 orang generasi Qur’ani di bumi Nuu Waar,” cetus Ustadzah Maurice.

Sementara itu, Dr Wahidin Puarada yang membawakan presentasi bertajuk “Mengapa Kesejahteraan Masih Terus Terjadi Walaupun Bangsa Indonesia Terus Melakukan Pembangunan?” ini mengajak para lulusan AFKN menjadi pelopor pembangunan di kampung masing-masing. “Para lulusan AFKN dengan latihan dari tutor akan mampu mendorong masyarakat secara individu maupun kelompok di tingkat desa untuk memaksimalkan potensi alam yang tersedia,” harap pria yang pernah menjabat Bupati Fakfak selama dua periode ini. * Ahmad Damanik/Humas AFKN