Upacara Kemerdekaan RI Ala Santri AFKN

pengibaran bendera

Saat sebagian kecil orang-orang di Nuu Waar (Irian) bangga dengan bintang kejora dan menyuarakan disintegrasi,  namun sebanyak 700 generasi muda asal daerah itu berbeda. Mereka mengibarkan bendera merah putih sebagai tanda bahwa anak Nuu Waar masih memegang teguh keutuhan NKRI. Pengibaran merah putih itu dilakukan dalam upacara memperingati Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.

Upacara ini digelar oleh santri-santri Al- Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) asal Nuu Waar pada hari Sabtu, 17 Agustus 2013. Prosesi upacara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Jambore Nasional Santri AFKN yang dilaksanakan di Villa Alamanda, Pasir Kuda, Bogor, selama satu minggu (12-18 Agustus 2013). Dalam acara yang dimulai sejak hari ketiga pasca Idul Fitri itu, santriwan-santriwati AFKN mendapatkan pembinaan keislaman dan kebangsaan dari pemateri yang memadai di bidangnya.

Dalam upacara tersebut, bertindak selaku inspektur upacara yaitu Kolonel Inf Utoh Zaendy dari Pusat Teritorial Angkatan Darat. Dalam amanatnya, perwira tinggi yang menjabat sebagai Direktur Pembinaan Teritorial ini mengatakan agar para santri terus memperdalam ilmu agama dan juga ilmu umum. Katanya, generasi mudalah yang nantinya akan menjadi penerus bangsa ini.

“Ilmu agama merupakan modal dasar bagi generasi muda yang memiliki karakter. Terus tingkatkan belajar kalian dan bersemangatlah. Jangan menjadi generasi muda yang mau dipecah belah,” tegasnya.

Lebih lanjut, Kolonel Utoh menyampaikan rasa syukurnya karena ketika banyak para pemuda yang selalu bertengkar dan ugal-ugalan, tapi di sini terdapat pemuda yang bisa bisa bersatu padu. “Lanjutkan perjuangan ini,” cetusnya. Banyak gerakan yang memecah belah persatuan dan kesatuan, katanya.

“Warna kulit dan rambut boleh beda. Tapi kita tetap harus mengharga perbedaan yang ada. Perlu kebersamaan, pendidikan, dan toleransi untuk mengisi kemerdekaan ini,” ucapnya lagi. Tak ada artinya bangsa besar, tambah Kolonel Utoh, kalau kita tidak bersatu.

Dalam kata akhir amanatnya, Kolonel Utoh menegaskan, “Lanjutkan belajar, agar bisa melanjutkan negara ini. Tapi kalau nanti sudah menjadi sukses, jangan lupa kepada orangtua dan negara,” harapnya.

Upacara memperingati kemerdekaan RI ke-68 ala santri AFKN ini dimulai sejak pukul 9 pagi hingga pukul 11 siang. Para santri terlihat berbaris rapi dengan pakaian khas santri AFKN. Santri putra ada yang mengenakan gamis, ada juga yang mengenakan batik. Sementara itu, santri putri juga mengenakan gamis hijau dan jilbab hitam.

Yang menarik perhatian dari upacara ini terlihat petugas-petugas upacara yang tampil dengan pakaian ala tentara. Dari mulai pemimpin barisan hingga komandan upacara, Muhammad Fajar. Merekalah adalah santri AFKN yang aktif di kesatuan Resimen Mahasiswa di kampus mereka masing-masing. Dengan tampil cukup gagah, mereka berhasil mengatur upacara menjadi lancar.

Begitu juga tiga orang pembawa bendera merah putih, yaitu: Syarifudin Kutanggas, Ali Kawager, dan Jufri Iriwanas. Mereka adalah santri AFKN yang telah aktif sebagai Paskibra saat masih menempuh pendidikan SMA di Nuu Waar.

Ustadz Fadzlan Garamatan, Ketua Umum AFKN mengatakan bahwa upacara bendera ini merupakan realisasi dari sikap AFKN yang menegaskan bahwa “Indonesia tanpa Nuu Waar, bukanlah Indonesia. Nuu Waar tanpa Indonesia, bukanlah Nuu Waar”. Nuu Waar merupakan bagian NKRI. Sebuah pulau paling timur Indonesia dimana agama Islamlah merupakan agama pertama yang eksis.

“Kalaulah sekarang ada pihak yang ingin mengoyak kesatuan, dan mencitrakan Nuu Waar sebagai daerah Kristen. Maka lihatlah, generasi Muslim  Nuu Waar akan menjawabnya dengan dakwah,” tegas Ustadz Fadzlan yang terus membina santri AFKN asal Nuu Waar.

Kelak, kata Ustadz Fadzlan, mereka akan membawa perubahan. Amin* Ahmad Damanik/Humas AFKN