Ustadz Fadzlan Garamatan: Momentum Hijriyah Sebagai Tonggak Kebangkitan Islam di Nuu Waar

DSC05975Waktu baru saja menunjukkan pukul 3 dini hari. Sekelebat sosok pria tinggi berjubah putih bergerak cepat dari satu kamar ke kamar lain. Tak hanya jubahnya, warna kopiah, sorban, dan sandalnya pun serasi. Teriakan dan ketukan pintu berkali-kali dari sang pria itu menghentakkan setiap penghuni kamar segera terjaga dari tidurnya. Ditambah lagi suara sirine dari arah luar cukup memekikan telinga.

DSC05968Bak sebuah komando dari komandan perang, dalam waktu singkat seluruh “prajurit” berkumpul di tengah lapangan. Sementara sang pria yang melesat cepat tadi telah berdiri tegak di lapangan tempat mereka berkumpul. Ia pun menginstruksikan seluruh “prajurit” untuk naik ke atas mobil pick up (losbak) yang sejak malam tadi telah berjejer rapi di tengah lapangan. Mobil losbak hitam sebanyak 7 buah itu pun telah dihias dengan bendera merah putih. Bahkan, salah satu losbak ditaruh alat tabuh besar alias beduk untuk menyemangati seluruh pasukan.

Dan, tak lama mobil-mobil yang ditumpangi para “prajurit” berjubah hijau itu pun bergerak meninggalkan lapangan.

Mereka tidak sedang berangkat menuju medan perang. Pagi menjelang Subuh itu (25/10), para santri Pondok Pesantren Nuu Waar berangkat menuju Masjid Al-Falah, Kecamatan Setu untuk mensyiarkan tahun baru Islam 1436 hijriyah. Sabtu kemarin, memang pas bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1436 H. Bersama mereka, sang pria berjubah putih itu, Ustadz M Zaaf Fadzlan Rabbani Garamatan turut menemani menembus kegelapan Kampung Bunut, Kecamatan Setu, Kab Bekasi yang menjadi lokasi berdirinya Ponpes Nuu Waar.

Setiba di Masjid Al-Falah yang berjarak 7 kilometer dari pondok, para santri bergegas masuk ke dalam masjid. Adzan shalat Subuh pun tak lama berkumandang dari masjid yang berada di kota kecamatan Setu itu. Sementara di dalam masjid, telah terpasang sebuah spanduk bertuliskan “Gebyar 1 Muharram 1436 H, Hijrah dengan Islam yang Kaaffah Menuju Indonesia Lebih Baik”. Di atas tulisan itu terpampang logo AFKN (Al-Fatih Kaaffah Nusantara).

Usai melaksanakan shalat Subuh, Ustadz Fadzlan tampil memulai acara yang dipanitiai oleh santriwan-santriwati AFKN lulusan Akademi Kebidanan dan Keperawatan sebuah akademi di Medan, Sumatera Utara itu. Namun, tidak seperti biasanya, kali itu Ustadz Fadzlan tampil hanya sebagai pembawa acara.

Setelah membuka acara, Ustadz Fadzlan mengundang tampil Ustadz Ahmad Husein Dahlan, Lc. MM, Mudir Pondok Pesantren Nuu Waar. Dalam ceramahnya, ustadz lulusan Universitas Islam Madinah ini mengatakan, pergantian tahun baru hijriyah merupakan tonggak sejarah yang telah dilalui Nabi SAW dalam perjalanan kebangkitan Islam. “Pada saat itu, banyak kezaliman yang dilakukan kaum kuffar kepada kaum Muslimin. Dan, perjalanan hijrah Nabi SAW dan pengikutnya ke Madinah merupakan langkah maju dalam perkembangan Islam,” papar Ustadz Husein.

DSC06028

Ustadz Ahmad Husein Dahlan, Mudir Ponpes Nuu Waar

Maka itu, jelas Ustadz Husein, kehadiran hijriyah ini bukan sesuatu yang remeh temeh. Hijriyah, selain momentum sejarah Islam, namun juga bisa menjadi sinyalemen kepada seluruh umat untuk berhijrah dari yang belum baik menjadi lebih baik. “Apa yang sedang kalian lakukan saat ini dengan pergi dari kampung di timur Indonesia sana ke Setu untuk menuntut ilmu, sudah dalam rangka hijrah untuk sesuatu yang lebih baik,” gugah Ustadz Husein kepada para santri.

Karena itu, tutur Ustadz Husein, jangan sia-siakan kesempatan berharga ini. Kalau di sini (Pondok Pesantren Nuu Waar) hanya untuk sekedar numpang tidur dan makan, alangkah sia-sia. “Semangat Ustadz Fadzlan yang telah membawa kalian ke pondok ini, harus dijawab dengan kesungguhan dalam belajar, menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Jangan buang kesempatan sedikit pun,” Ustadz Husein terus memotivasi.

DSC05977

Ustadz M Zaaf Fadzlan Garamatan, “Meski kulit hitam dan rambut keriting, antara Nuu Waar dan Setu, kita akan bangkitkan Islam di bumi Nuu Waar.”

Usai Ustadz Husein menyampaikan ceramahnya, Ustadz Fadzlan kembali melanjutkan acara. Dalam kesempatan singkat itu, Ustadz Fadzlan pun menegaskan kepada para santri dan jamaah yang hadir, untuk menyambut momentum hijriyah ini sebagai kebangkitan Islam. Katanya, kebangkitan Islam itu harus disambut dengan menggencarkan dakwah dan semangat mempelajari al-Qur’an.

“Meski kulit hitam dan rambut keriting, antara Nuu Waar dan Setu, kita akan bangkitkan Islam di bumi Nuu Waar,” tegas Ustadz Fadzlan yang disambut takbir oleh para santri dan jamaah.* Ahmad Damanik/Humas AFKN