“Singgasana” untuk Sang Gubernur

DSC07310

SETU, BEKASI – Saat menghadiri acara peletakkan batu pertama pembangunan Masjid Nuu Waar di Komplek Pondok Pesantren Nuu Waar (4/6), Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan disambut dengan penghormatan ala masyarakat Nuu Waar terhadap seorang tokoh masyarakat. Bentuk penghormatan itu dengan cara sang tokoh harus duduk di atas kursi yang sudah diikat kuat pada beberapa batang bambu. Selanjutnya, kursi itu akan diangkat oleh beberapa orang yang dianggap memiliki tenaga kuat.

Seperti pada hari itu, panitia telah menyediakan kursi yang nantinya akan diangkat oleh para santri dewasa. Meskipun awalnya Ahmad Heryawan menyatakan diri tak hadir, namun panitia tetap menyediakan kursi tersebut untuk menyambut Asda Propinsi Jabar yang diutus oleh gubernur. Baru pada detik-detik terakhir, Ahmad Heryawan menyatakan diri akan hadir dalam acara peletakkan batu pertama.

Setiba di pondok pesantren, salah seorang protokoler Ahmad Heryawan nampak membisiki sang gubernur perihal rencana panitia yang akan mengangkat menuju lokasi acara dengan “singgasana” sederhana ala santri Pondok Pesantren Nuu Waar. Meski mulanya ragu, namun gubernur akhirnya tak menolak untuk duduk di kursi tersebut setelah dibujuk oleh Ketua Yayasan AFKN, Ustadz M Zaaf Fadzlan Garamatan.

Terang saja ini membuat panik beberapa pengawal Aher. Salah satu yang nampak khawatir adalah seorang pria yang nampaknya pimpinan dari proses pengawalan. Sontak saja, kepala pengawalan tersebut langsung memerintahkan seluruh pengawal untuk membantu santri yang bertugas mengangkat.

DSC07314

Para santri dewasa sedang berusaha melewati jalan menurun. Jalan ini yang dikhawatirkan oleh kepala pengawal.

Saking khawatirnya lagi, sang komandan pengawal itu meminta kepada santri yang baru saja beberapa meter mengangkat sang gubernur untuk berhenti. Kebetulan jalan yang akan dilintasi dirasa mengkhwatirkan. “Sudah sampai sini saja, jalan ini berbahaya,” katanya. Namun, merasa sudah berpengalaman, para santri itu tetap saja melanjutkan perjalanan, hingga akhirnya sang gubernur tiba di muka aula tempat acara peletakkan batu pertama pembangunan Masjid Nuu Waar.

Belakangan, saat sambutan, sang gubernur mengaku, “Awalnya memang saya tak mau ditandu seperti itu, tapi saya cerita kawan, Fachri Hamzah. Dia cerita waktu di Papua, pernah juga disambut dengan cara seperti ini. Katanya, ini bentuk penghormatan masyarakat, yang jika ditolak berarti kurang menghargai,” papar Aher.* Ahmad Damanik/Humas AFKN