Santri AFKN Fokus Menjadi Guru dan Tenaga Medis

Rektor Universitas Pamulang tengah memberikan pengarahana kepada calon mahasiswa Unpam dari santri AFKN asal Nuu Waar

Rektor Universitas Pamulang tengah memberikan pengarahana kepada calon mahasiswa Unpam dari santri AFKN asal Nuu Waar

Hari Kamis lalu (22/8), sekitar 30 orang santri AFKN asal Nuu Waar mendaftar sebagai calon mahasiswa Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. Kedatangan anak-anak asal Nuu Waar yang nampak rapi; yang putri berpakaian gamis dan berjilbab, sementara yang putri nampak berpakaian rapi, menarik perhatian mahasiswa, dosen, dan karyawan kampus tersebut. Tak heran, di antara orang-orang itu ada yang bertanya-tanya tentang kedatangan mereka di kampus Unpam.

Dengan penuh keyakinan, pandangan mata orang-orang yang memperhatikan itu seolah dihiraukan. Sambil menenteng map biru yang berisi formulir pendaftaran mahasiwa Universitas Pamulang, mereka melangkah menuju tempat panitia pendaftaran. Sambil dibantu oleh 11 santri AFKN asal Nuu Waar yang sudah lebih menjadi mahasiswa di Unpam, satu demi satu mereka mendaftar dengan tertib.

Namun, syukur alhamdulillah, melihat banyaknya para pendaftar dari Nuu Waar ini, pihak panitia memberikan kemudahan dengan menyediakan meja tersendiri. Makanya, proses pendaftaran ini pun berjalan tidak terlalu lama.

Menurut Ustadz Fadzlan Garamatan, Ketua Umum AFKN, para santri AFKN yang menempuh pendidikan di Universitas Pamulang difokuskan untuk tenaga guru.  Diharapkan, pada saatnya nanti, mereka siap terjun mengajar masyarakat pedalaman dengan ilmu terbaik.

Usai menyerahkan formulir pendaftaran, Rektor Unpam, Dayat Hidayat berkenan menerima kedatangan santri AFKN di ruang kerjanya. Meski terkesan kedatangan sangat mendadak, namun Rektor Unpam yang didampingi oleh Pembantu Rektor I, Bukhori tetap menerima dengan ramah.

Kepada para santri AFKN yang juga calon mahasiswa Unpam, Rektor Unpam menyampaikan ucapan selamat datang atas kehadiran di kampus yang dipimpinnya. Ia mengingatkan kepada para santri AFKN agar jangan mudah menyerah dalam menempuh studi nanti. “Jangan buang-buang waktu untuk tidak belajar,” kata rektor.

Ia juga berharap, santri-santri AFKN ini setelah nanti selesai menempuh studi agar kembali ke daerahnya masing-masing. Bangun daerah masing-masing, kata rektor. “Sehingga orang-orang di kampung merasa bangga setelah anak-anak mereka lima tahun pergi meninggalkan kampung. Dengan begitu kami pun di sini merasa bangga,” harap Dayat Hidayat, MM.

Terakhir, rektor mengingatkan, agar pada santri AFKN dapat menjaga diri dalam pergaulan. Jangan sampai tergoda dengan lingkungan sekitar yang kurang bagus, seperti barang haram narkoba, minum-minuman keras, dan pergaulan bebas. Lebih dari itu, pesan rektor, kampus merupakan wilayah intelektul. “Jadi kalau bicara jangan pakai otot, tapi gunakan dan maksimalkan otak kita,” pesan Dayat Hidayat yang berharap santri AFKN asal Nuu Waar ini bersedia untuk masuk dalam tim bola Unpam.

Pendidikan Bidan di Medan

Tak hanya mendidik santri AFKN sebagai tenaga pengajar yang profesional, AFKN juga mengirim 50 santrinya untuk menempuh pendidikan sebagai tenaga bidan dan perawat di kampus milik Yayaran RS Sehat Medan, Sumatera Utara. Hari Sabtu (24/8) lalu, ke-50 santri itu dilepas Ketua Umum AFKN untuk berangkat ke Medan dengan menggunakan KM Kelud.

Para santri AFKN asal Nuu Waar ini fokus untuk menguasai dunia kesehatan, terutama bidan dan perawat. Tenaga bidan, kata Ustadz Fadzlan, sangat dibutuhkan dalam membantu ibu-ibu melahirkan yang ada di pedalaman. “Selama ini ibu-ibu di pedalaman kurang memperhatikan kesehatan dalam menjaga kehamilan dan melakukan persalinan,” ujar Ustadz Fadzlan.

Tak hanya itu, para bidan-bidan yang merupakan santri AFKN ini diharapkan kelak mereka bisa melantunkan azan dan syahadat di telinga anak-anak yang dilahirkan. “Pada saat anak-anak itu besar, mereka akan mencari Allah SWT, sebab kalimat Allah SWT telah diperdengarkan saat mereka hadir di dunia,” harap Ustadz Fadzlan.*