Puisi: Pesan Dari Nuu Waar

Adalah si kepala burung yang kini masih tertidur di belahan timur kita.

Meski banyak yang sudah hijrah

Tetapi kita tidak pernah mau tahu

Jika namanya di sebut Papua

Maka kengerian, perang suku dan main hakim sendiri

Adalah citra buruk dalam benak kita.

Tanpa pernah kita ketahui ada saudara-saudara kita di sana yang setiap hari harus melumuri badannya dengan minyak babi agar tubuhnya hangat dan tidak dihinggapi nyamuk.

Lalu pernahkah kita melihat ada seorang ibu yang tengah menyusui anaknya di sebelah kanan, sedang sebelah kirinya menyusui seekor anak babi?

Inikah budaya yang harus dipertahankan dan dilestarikan?

Atau ini sebuah pembodohan atas nama eksotisme?

Mereka dibiarkan berkoteka,

Mereka disengaja terbelakang dan bodoh.

Sadarkah kita ada seorang dai yang berdakwah dengan sabun mandi?

Berjalan berhari-hari, menyusuri hutan – menembus Rimba Migori…

Pernahkah kita menyaksikan ribuan orang bertaharah, membersihkan diri dengan tanah, kemudian  belajar mandi menggunakan sabun dan shampoo?

Dan selama seminggu, mereka biarkan busa sabun dan shampoo menempel di tubuhnya karena harum wanginya baru kali ini mereka nikmati.

Kemudian terucaplah kalimat: “Asyhadu an laa Illaha Ilallah  Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”

Maka seluruh alam Irian beserta isinya bersujud mengagungkan Kebesaran-Nya… Allahu Akbar!

Inilah perjuangan seorang Fadzlan Gharamatan yang ingin melihat tanah kelahirannya disebut NUU WAAR kembali yang berarti Cahaya yang Tersembunyi.

Cahaya Islam yang mampu mengumandangkan adzan Subuh untuk membangunkan saudara Muslim di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan lainnya.

Inilah impian Fadzlan yang ingin memahkotai Si Kepala Burung Nuu Waar dengan kubah-kubah masjid dan mengganti warna merah darah pertikaian dengan jubah hijau perdamaian.

Nuu Waar…

Adalah gunung emas untuk menancapkan tonggak kepedulian

Nuu Waar adalah berlian hitam yang harus bersinar

Indonesia tanpa Nuu Waar bukanlah Indonesia

Nuu Waar tanpa bagian Indonesia lainnya bukanlah Nuu Waar

Jakarta, 19 Maret 2010

Masge Wathon & Anneke Puteri