Peduli Korban Banjir Muara Gembong

1902004_10201443622965724_193229801_nCatatan Halima Furu yang menjadi salah satu relawan dalam tim peduli banjir

Senin (18/2), Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) bersama Pesantren Daarul Fikri dan YBM BRI menggelar program Peduli Banji di Desa Suka Wangi, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Dalam kegiatan itu, seluruh rombongan dibagi dalam dua tim agar dapat menjangkau seluruh daerah yang terkena banjir pada bulan Januari lalu. Tim satu tinggal di Posko pertama, sementara tim kedua melanjutkan perjalanan.

Tim kedua ini masih harus melanjutkan perjalanan sejauh 2 kilometer untuk menuju posko utama banjir di Muara Gembong. Untuk mencapai lokasi banjir yang terparah, kami berjalan kaki melewati rumah-rumah warga. Memandangi rumah-rumah warga, masih nampak jelas bekas banjir setinggi dada orang dewasa di dinding rumah warga. Kami berjalan hingga tiba di tepi sungai, ternyata untuk mencapai tujuan lokasi banjir terparah masih perlu naik perahu. Kami sempat bertemu dengan serombongan anak-anak menggunakan seragam merah putih yang baru saja pulang dari sekolah. Kami sempatkan menyapa mereka dengan senyuman, mereka pun membalasnya dengan hangat.

Tiba di seberang, anak-anak ini semuanya membuka sepatu. Di antara mereka ada yang berkata, “Kakak, nanti sepatunya di buka.” Kami bertanya balik, “Memangnya kenapa, Dik?”

1940033_542370689195445_54236534_n

Penulis berada paling depan (jilbab pink)

“Masih becek sekali, Kak,” jelas seorang anak.

Ternyata benar saja, jalan menuju lokasi, kami harus melalui jalan berlumpur setinggi betis orang dewasa. Kondisi seperti ini, anak-anak di desa itu masih semagat menembus lumpur untuk meraih pendidikan mereka. Ditambah lagi, hari itu merupakan hari pertama mereka masuk sekolah setelah libur sebulan akibat banjir merendam sekolah mereka.

Tak berapa lama, kami tiba di posko utama. Waktu menunjukkan pukul 1 siang. Warga sudah menanti kedatangan kami di posko utama tersebut. Tim yang diketuai oleh Ustadz Soleh dibagi menjadi 2 tim. Tim 1 untuk pelayanan dan diagnosa, sementara tim 2 mendata warga untuk diberikan sembako. Warga sempat berdesakan untuk mendapatkan sembako dan pengobatan gratis. Kali ini, kami melayani pengobatan gratis dengan bekam, akupuntur, dan konseling.

Salah satu warga sempat merasa ketakutan bercampur penasaran dengan pengobatan yang kami berikan. Namun, seorang ibu berkata kepada kami, “Neng, kayak gini besok-besok diadakan lagi ya. Enakan kayak gini, Neng.”

Saya sempat bertanya kepada ibu tersebut mengenai air bersih untuk minum. “Air minum susah. Air sumur asin, jadi terpaksa untuk minum kami membeli air galon. Dulu harganya Rp 5000, sekarang Rp 6000,” aku ibu tersebut.

Menjelang malam, pengobatan dan pemberian sembako selesai dilaksanakan. Kami bersama kawan-kawan bidan santri AFKN serta lainnya berpamitan kepada warga setempat. Kepulangan kami diantar menggunakan perahu yang hanya cukup untuk 6 orang. Sungguh, sebuah pengalaman berharga untuk kami bisa membantu warga yang menjadi korban banjir.*