Meriahkan Tahun Baru Islam, Santri AFKN Jalan Kaki 7 KM

DSC06129Usai menggelar tabligh akbar di Masjid Al-Falah, Setu, santri Pondok Pesantren Nuu Waar menggelar pawai dengan berjalan kaki sejauh 7 kilometer. Sebelum melakukan pawai, para santri terlebih dulu berkumpul di Kantor Polsek Setu, Jl Suprapto No. 2 Setu, Kab Bekasi. Di halaman kantor Polsek Setu, para santri disambut oleh Polsek Setu, AKP Suroto WSC yang juga melepas rombongan pawai santri. Sebelum melakukan pelepasan, Suroto berpesan agar para santri menjaga ketertiban dan keamanan selama melakukan acara.

“Saya sampaikan kepada seluruh santri agar menjaga ketertiban selama menjalani acara pawai ini. Insya Allah, anggota polisi Polsek Setu juga akan turut serta mengawal selama acara ini berlangsung,” ujar Suroto di hadapan para santri.

Usai memberikan sambutan, AKP Suroto berkenan melepas pawai santri AFKN dalam rangka memeriahkan tahun baru Islam 1436 hijriyah. Suara sirine dari mobil petugas polisi turut memulai pawai yang diikuti santri sebanyak 500 orang. Di belakang mobil petugas diikuti mobil-mobil pick up yang hanya ditumpangi oleh seorang supir. “Santri lebih memilih jalan kaki, dari pada naik mobil,” tutur Ustadz Fadzlan.

Barisan para santri yang mengular di jalan raya Setu kian ramai dengan suara-suara alat tabuh (rebana) yang telah disiapkan para santri. Dari alat tabuh yang ukurannya kecil, hingga berukuran besar. Rebana yang berukuran kecil ini biasaya digunakan dalam kesenian hadrat yang menjadi salah satu khas kesenian di masyarakat Muslim Nuu Waar. Kesenian ini dimainkan dengan tempo cepat dan penuh tenaga. Dari suaranya yang menggema, tak ayal lagi, pawai ini mendapat antusias dari setiap warga sekitar yang dilewati.

Di tengah perjalanan, stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI) meliput kegiatan ini. Saat ditanya oleh wartawan TVRI, Ustadz Fadzlan menegaskan bahwa makna hijrah yang utama adalah berubah dari kemusyrikan kepada tauhid. Hijrah untuk menjadi lebih baik. Ia juga mengatakan, “Pemerintahan yang baru sekarang ini menjadikan semangat hijrah ini untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan keadilan dan membawa Indonesia menjadi lebih baik.”

Tidak hanya kepada pemerintah, semangat hijriyah ini semestinya dimaknai oleh seluruh kaum Muslimin untuk semakin taat kepada Allah SWT. “Kualitas kita sebagai seorang Muslim, yang tadinya hanya sekedar-sekedar saja, menjadi seorang Muslim yang kaaffah,” harap Ustadz Fadzlan.

Saat masih berada di jalan raya Setu sempat terjadi kepadatan lalu lintas. Hal ini membuat beberapa pengguna jalan menampilkan wajah yang kurang bersahabat, namun hal itu membuat beberapa santri dan ustadz yang turut serta dalam pawai itu menyapa mereka dengan ucapan “Assalamu’alaikum”. Dengan sapaan itu, membuat para pengguna jalan dan warga di sekitar nampak simpati.

Akhirnya, pawai santri ini pun berakhir di Pondok Pesantren Nuu Waar. Sejauh itu, para santri nampak tetap bersemangat. Suara rebana dengan lantunan shalawat tak henti-henti hingga tiba di pesantren. Satu hal yang ingin disampaikan santri AFKN kepada masyarakat sekitar, bahwa dalam Islam pun terdapat pergantian tahun yang memiliki makna bersejarah sebagai tonggak kebangkitan Islam. Sayangnya, banyak kaum Muslimin yang tidak menyadari dan memahaminya.

Dari Nuu Waar para santri itu berasal, dan kini berada di Setu, Bekasi untuk belajar dan mendakwahkan Islam. Mereka telah hijrah dari negeri asalnya di Nuu Waar. Dari Setu ini, kelak mereka akan kembali ke Nuu Waar untuk menerangi Nuu Waar dengan cahaya Islam. Aamiin.* Ahmad Damanik/Humas AFKN