Hari Gini Nggak Punya Pacar? Norak banget sih…

pacaran

Oleh: Aistiyani *

Ungkapan yang sering kita dengar dari lisan-lisan sahabat. Sebuah ungkapan yang menggambarkan kondisi umum remaja sekarang yang sepertinya sudah begitu membudayakan pacaran sebagai hal yang lumrah bahkan syarat agar diakui eksistensinya. Banyak sahabat yang akhirnya terpengaruh oleh budaya tersebut namun syukur ada juga sahabat yang masih dapat menjaga dirinya agar tidak ikut-ikutan. Beragam alasan yang melandasi kedua hal tersebut, ada karena larangan orang tua, ada karena agar dianggap gaul, ada yang mengikuti nalurinya semata.

Tapi sahabat tahu kan? Semua hal yang dilakukan berdasarkan pemahaman(baca:ilmu) tentu akan lebih kuat tertanam dalam diri seseorang. Karena pada dasarnya agama kita yang mulia, Islam adalah akal. Nah, mari kita diskusikan apa dan bagaimana bagaimana sebenarnya pacaran itu?

Flashback dulu yuk!

Pada masyarakat Melayu zaman dahulu ada budaya memakai pacar/inai (zat perwarna  yang digunakan pada kuku) pada dua orang muda mudi yang ketahuan saling tertrik oleh keluarganya. Pemuda akan mengirimkan sinyal tertariknya dengan mengirim tim pembaca pantun untuk sang gadis pujaannya. Kemudian tim tadi akan berpantun tepat didepan halaman rumah sang gadis.

Jika si gadis menyambut pantun sang pemuda dan keduanya ingin meneruskn hubungan mereka maka kedua orang tuanya memberikan pacar air di tangan keduanya sebagai tanda bahwa keduanya telah memiliki hubungan. Selanjutnya inai/pacar yang di tangan akan hilang selama tiga bulan dan selama waktu itulah sang pemuda mempersiapkan segala kebutuhan untuk melamar sang gadis. Jika sampai inai/pacar ditangan mereka hilang sebelum ada lamaran atau konfirmasi lebih lanjut maka si gadis berhak memutuskan hubungan tersebut dan menerima pinangan lelaki lain. Namun dalam masa persiapan itu mereka benar-benar terjaga.

Sehingga diartikan pacaran adalah proses perkenalan diantara dua orang untuk mencapai kecocokan kearah yang lebih serius (baca:pernikahan). Makna awalnya seperti itu tapi kalau melihat substansi pacaran disaat kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) yang berimbas pada kenaikan BBM( Biaya Buat Menikah), sepertinya sudah jelas beda. Kalau pacaran sekarang orientasinya pasti sudah mendekati bahkan melakukan maksiat, bener apa bener? Ups keceplosan tapi ini kenyataan berdasarkan investigasi akurat loh!

Minimal pacaran sekarang itu berkhalwat/berdua-duaan, memanggil dengan panggilan sayang, berpegangan tangan, berjanji-janji dusta, banyak lagi deh.

Bagaimana Islam memandang pacaran?

Pacaran sendiri nggak ada dalam Islam. Nah terus? Gini loh!

وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً سورة الإسراء [ (سورة الإسراء 32)

Artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Al Qur’an Surat Al Isra 32)

Penjelasannya adalah dengan hadits:

Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu, kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (H.R. Muslim, no. 6925)

Analoginya sudah jelas kan? Berdasarkan hadits diatas apa-apa yang selama ini dilakukan orang-orang berpacaran adalah merupakan zina.  Jika mendekatinya saja merupakan sebuah kekejian dan keburukan bagaimana dengan melakukannya?

Tapi masih banyak juga sahabat yang belum terlalu yakin dengan keburukan pacaran. Katanya yang penting pacarannya secara baik-baik (baik yang seperti apa ya?), dan ternyata dari sahabat-sahabat yang ilmu agamanya sudah bagus katanya mereka berpacaran secara Islami. Jiaah, pacaran Islami? Gimana ceritanya? Iya nanti ketemuannya di masjid pacarannya dibawah beduk sekalian ngingatin waktu shalat, atau kalau mau bertemu membaca basmallah selesainya ditutup dengan kafaratul majelis, panggilannya ustad dan ustadzah, banyak lagi alasannya. Tujuannya adalah untuk menghalalkan pacaran. Sudah asalnya dari Allah haram ya haram, emangnya bisa hukum Allah ditawar? Bagaimana nanti kalau ada yang bilang alkohol Islami, babi Islami, bangkai Islami?

Atau masih perlu bukti kalau pacaran itu buruk?

Menurut penelitian di universitas Valencia seorang laki-laki yang berduaan dengan wanita akan memicu naiknya  sekresi horon kortisol. Kortisol adalah hormon yang bertanggung jawab terjadinya tegangan dalam tubuh. Bahkan ketika hanya dengan mambayangkan seorang wanita maka hormon tersebut akan terproduksi.

”Cukup anda duduk dengan seorang wanita. Dan anda akan membuktikan jika peningkatan hormon anda dalam proporsi tinggi betul nyata” temuan studi ilmiah yang dimuat Daily Telegraph.

Para ilmuwan mengatakan bahwa hormon kortisol sangat penting bagi tubuh dan berguna untuk kinerja tubuh tetapi dengan syarat mampu meningkatkan proporsi yang rendah. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa tegangan yang tinggi hanya terjadi ketika seorang laki-laki berduaan dengan lawan jenis (bukan mahram), dan tegangan tersebut akan terus meningkat pada saat wanitanya memiliki daya tarik lebih besar!

Masih banyak lagi dampak buruk pacaran yang tentunya meskipun kita berusaha untuk menutupinya tapi hati fitrah sahabat sendiri tidak mapu memungkiri. Tapi semuanya kembali pada diri sahabat karena seorang rasulpun hanyalah sebagai pembawa peringatan apalagi dengan ana. Namun semoga kita termasuk dalam golongan surat An Naml ayat 4 yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak percaya kepada hari akhirat, kami jadikan terasa indah bagi mereka (yang buruk). Sehingga mereka bergelimang dalam kesesatan”

Semoga Allah senantiasa hati, perkataan, dan perbuatan kita sebagaimana Dia memuliakan kekasih-kekasih-Nya dengan iman dan Islam. Wallahu’alam bishawab

* Penulis adalah Santri AFKN yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Pamulang Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Inggris.

Tulisan Lain Aistiyani:

Pelatihan Khutbah Jum’at bagi Dai dan Santri AFKN Nuu Waar