Budaya Koteka adalah Pembodohan

Foto Fadlan GaramatanFadzlan sebenarnya lebih sreg menyebut nama Nuu Waar bagi tanah kelahirannya, bukan Papua atau Irian. “Itu nama Irian dulu, bahasa Irian. Nuu artinya cahaya, waar menyimpan rahasia,” jelasnya.

Pria yang juga pendiri Pesantren Al-Khairat Rawalumbu Bekasi ini kemudian mengungkap “rahasia” itu.

“Salah satunya barangkali rahasia di balik anugerah Allah kepada Irian sebagai bagian dari Indonesia. Muslim Papua-lah yang pertama kali mengumandangkan azan Shubuh. “Ashalaatu khairu min an-naum”’ Ayo bangun!”

“Bangunlah kebersamaan, ukhuwah Islamiyah. Jika orang Irian tidak shalat, tidak akan terdengar takbir di pagi hari. Padahal matahari dan bulan ingin mendengar takbir.”

“Allah pun berfirman dalam Surat An-Nashr: 2, “…dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong’. Itu terjadi di Irian,” ujarnya.

Dalam sejarahnya, nama itu kemudian diganti oleh Portugis menjadi Papua, lalu diganti oleh Indonesia menjadi Irian, sekarang jadi Papua lagi. “Semoga di masa depan menjadi Nuu Waar lagi,” harap Fadzlan.

Sejatinya, Islam telah menjadi bagian integral dari perkembangan masyarakat Papua. Seperti tertulis di buku Islam atau Kristen Agama Orang Irian karya Ali Athwa (wartawan Suara Hidayatullah), Islam justru datang lebih dulu dibanding Kristen. Fadzlan pun meyakini hal itu.

“Islam adalah agama pertama yang masuk Papua. Orang Islamlah yang mengantar Pendeta Otto Gensller ke Irian tanggal 5 Februari tahun 1885. Saat itu, Syaikh Iskandar Syah dari Samudera Pasai sudah datang, pengaruh Raden Fattah dari Kesultanan Demak juga sudah ada, hubungan Muslim Irian dengan Kerajaan Ternate dan Tidore di Maluku pun erat.”

“Menurut data yang saya temukan, saat itu sudah ada halaqah-halaqah yang digerakkan para da’i sejak abad ke-12. Raja berperan besar dalam menggerakkan dakwah,” jelas pria yang masih keturunan Raja Pattipi ini.

Menurut Fadzlan, kerajaan-kerajaan Islam saat itu berdiri di berbagai wilayah. “Ada 12 kerajaan, di bagian selatan ada 9, ada pula di utara, termasuk di kawasan Wamena, namanya Kerajaan Abdussalam Nowak. Salah satu keturunan Nowak ini adalah Haji Aipon Asso, tokoh masyarakat Wamena,” urai Fadzlan yang kini tengah melakukan penelitian tentang sejarah Islam di Nuu Waar.

Islam lebih dulu berkiprah di Papua, namun sekarang wilayah ini identik dengan Kristen. Tanggapan Anda?

Ini korban opini media massa. Cerita tentang Irian kan tidak jauh dari koteka. Dalam waktu yang sama, posisi-posisi birokrasi dikuasai oleh saudara-saudara kami yang Kristen. Merekalah yang akhirnya lebih menonjol.

Menurut Anda, kenapa birokrasi bisa dikuasai mereka?

Kesalahan pemerintah pusat. Dulu waktu berjuang mengembalikan Papua ke pangkuan ibu pertiwi, dimulai dari basis massa Islam, terutama di wilayah barat. Jiwa raga Muslim Irian dipertaruhkan. Tapi setelah berhasil, Islam tidak dibesarkan, dakwah tidak dikembangkan. Alur informasi pun tidak pernah diterima dengan baik oleh basis-basis Islam. Apalagi basis birokrasi kemudian beralih ke Jayapura, sebuah wilayah warisan penjajah Portugis.

Apakah Irian yang identik dengan Kristen itu juga dipengaruhi oleh aktivitas misionaris?

Jelas. Seperti Timor Timur. Awalnya banyak yang Muslim, tapi karena ada proses pembodohan maka jadi murtad.

Di Irian, ada proses pembodohan seperti apa?

Contoh kecilnya adalah masalah pakaian dan mandi. Kami dibiarkan tetap memakai koteka dan mandi minyak babi, ini adalah pembodohan yang diajarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kami menjadi korban ketidakadilan pembangunan.

Telanjang dianggap sebagai kebudayaan kami, padahal itu adalah pembunuhan karakter sebagai mahluk, sebagai hamba Allah. Kalau di antara kami ada yang jadi menteri atau anggota DPR, apakah ke Jakarta pakai koteka? Nggak bisa, manusia!

Ibu yang meneteki anaknya dan babi sekaligus juga dibiarkan. Tradisi perang antarsuku dipertahankan. Akibatnya, muncul anggapan bahwa orang Irian itu jahat. Mereka juga membawa minuman keras untuk membuat generasi muda kami mabuk-mabukan.

Apa yang Anda lakukan untuk memberantas pembodohan itu?

Pendidikan. Ini adalah sumber utama untuk mengubah manusia. Kalau tidak dimulai dengan pendidikan, ke depan kita akan hancur, termasuk tatanan tauhid atau aqidahnya.

Masyarakat Irian butuh pemikiran, perubahan, butuh ketenangan hidup. Bukan dijual untuk dijadikan ladang hidup. Selama ini kami dibiarkan miskin agar bisa jadi proyek.

Generasi Irian harus dibekali dengan konsep ilmu yang benar. Dengan demikian, ketika sudah berilmu dan kembali ke kampung halaman, jiwanya akan terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya. Dan untuk mendapatkan ilmu yang benar, generasi muda Muslim Papua tidak boleh di lingkungan asalnya, tapi harus hijrah.

Mengapa begitu?

Seperti ember kosong, diambil dari akar lingkungannya yang belum berilmu dan beraqidah secara benar. Ketika ember ini penuh, kemudian harus menuang ke negerinya sendiri. Jadi, harus pulang ke Papua. Dengan begitu, diharapkan mereka dan masyarakatnya akan tumbuh dan berkembang.

Ketika kuliah, apakah anak-anak diarahkan untuk mengambil jurusan tertentu?

Terserah mau ngambil apa, sesuai potensinya. Mau jadi guru, tentara, polisi, pengusaha, arsitek, dokter, wartawan, tidak masalah. Asal, profesi sebagai da’i tidak boleh lupa. Ketika masuk di kelompok masyarakat, dakwah dulu baru bicara struktur atau birokrasi. Ini adalah amanah yang kami berikan kepada seluruh anak. Kalau tidak, bagaimana orang bisa tahu bahwa Islam bisa tumbuh dari Irian?

Dan perlu dicatat, 10 atau 20 tahun lagi merekalah yang bakal menentukan masa depan Papua.

Bagaimana cara meyakinkan keluarganya agar rela anak-anak dibawa ke tempat yang jauh?

Mereka sudah melihat apa yang sering kami lakukan di kampung. Kami biasa shalat berjamaah Shubuh di tempat mereka, ada kultum, kemudian bekerja. Waktu zhuhur ke mushalla lagi, habis Ashar ada ta’lim.

Kami tunjukkan foto, majalah, atau apapun yang bisa menunjukkan tentang anak-anak Irian yang berhasil, berkat pendidikan. Mereka pun bertanya, “Bagaimana caranya sekolah?”

Kami jelaskan, “Di sini gurunya susah. Bagaimana kalau anak Bapak atau Ibu kami bawa?” Mereka pun setuju.

Agar lebih meyakinkan, orangtua atau keluarganya kami bawa ke Jawa. Matanya terbuka. Begitu kembali ke kampung, mereka bercerita kepada tetangga. Begitu seterusnya.

Bagaimana proses rekrutmennya?

Sebelum anak-anak dibawa, kami “tidur” dulu di kampungnya 2-3 bulan, bahkan bisa sampai 2 tahun. Kami bicarakan dari hati ke hati bagaimana jika anak-anak ini dibina. Ternyata responsnya luar biasa. Kadang-kadang saya bisa bawa 50-60 anak ke Jawa, baik yang sudah Muslim atau masih mualaf.

Ketika datang ke Jawa, apakah mereka mengalami masalah, karena perbedaan kultur misalnya?

Ketika awal di pesantren, memang agak susah. Perlu adaptasi, mulai dari kebiasaan sampai masalah makan. Anak-anak ini terbiasa makan sagu atau ubi, maka ketika makan nasi jadi sakit perut. Atau, kalau makan nasi habis sebakul. Alhamdulillah, lama-lama bisa adaptasi dan berprestasi. Ada beberapa kader kami di Pesantren Gontor, misalnya, yang hafidz Al-Qur`an.

Bagaimana memantau perkembangan anak-anak yang tersebar di berbagai tempat itu?

Setiap Ramadhan kami kumpulkan di Bekasi. Anak-anak bisa ketemu, tukar pikiran dan pengalaman. Masing-masing akan termotivasi dengan perkembangan temannya. Kami pun bisa memantau sejauhmana perkembangan anak-anak.

Kantor di Bekasi yang aktif sejak tahun 1985 ini menjadi semacam markas dan pusat informasi. Di sinilah jadi tempat bertanya.

Sebelum ada markas, saya banyak di hutan. Komunikasi tidak lancar sehingga banyak masalah tak terselesaikan. Alhamdulillah, sekarang lebih mudah, meskipun tempat ini (di Bekasi) masih sewa. Ada lagi pusat-pusat informasi seperti di Surabaya dan Makassar.

Selain menggarap pendidikan, adakah kegiatan lain?

Ada program pemberdayaan ekonomi. Contohnya sagu. Kami kirim mesin pengolah sagu ke Irian sehingga produksi bisa meningkat. Kalau menggunakan cara tradisional, satu pohon saja sehari tidak selesai. Tapi kalau memakai mesin, sehari bisa menghasilkan 5 ton tepung. Warnanya pun putih karena memakai air tanah, bukan air rawa seperti sebelumnya. Untuk itu, kami buatkan sumur bor.

Juga usaha ikan tenggiri. Krupuk 1.000 kantong per hari. Ikan asin, sarang semut, buah merah, sagu, terasi udang, abon ikan, abon kambing, abon rusa, dan semacamnya. Kami juga sedang menggerakkan peternakan kambing, untuk mengganti peternakan babi. Alhamdulillah, beberapa produk kami sudah bisa menembus hipermarket. Para da’i dan anak-anaklah yang jadi tenaga marketing-nya. * (red)

Sumber: Suara Hidayatullah